Jurnalistik Foto
D. People in the news (sosok)
1. Ketua Human Initiative Bengkulu tahun 2023 Rio Aprianto, S.M (4×3)
Pada tahun 2023 Ketua Human Initiative Bengkulu adalah Rio Aprianto SE yang dikenal sebagai sosok aktivis dakwah kampus. Ia menjadi pribadi yang mampu merubah saya menjadi lebih baik dengan ucapan nasehat dan perangai yang ditunjukkan. Perubahan itu terjadi karena ia sering memberikan bimbingan layaknya kepada adik-adik binaannya yang dekat dengannya. Salah satu ajaran penting yang ia sampaikan adalah rumus manajemen waktu dengan cara mengklasifikasikan kegiatan ke dalam empat kategori yaitu penting mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, dan tidak penting tidak mendesak. Melalui cara tersebut saya belajar bagaimana mengatur aktivitas harian agar lebih terarah dan bermanfaat.
Pada tahun 2023 Arca Wijaya menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu yang dikenal sibuk dengan berbagai kegiatan BEM. Di tengah kesibukan itu beliau tetap menunjukkan sikap loyal membantu sesama dan ramah kepada adik-adiknya. Saya merasa terpukau karena di suatu waktu ketika berada di kampus saya kehabisan bensin dan tanpa disangka beliau datang menawarkan bantuan dengan cara menyetep motor saya dari belakang. Momen itu menunjukkan bagaimana beliau mampu hadir sebagai sosok yang suka menolong kapan pun dibutuhkan. Cara beliau meninggalkan senyuman setelah membantu menjadi pengalaman yang membekas dan memberi teladan bagi saya.
1. Echa Cheryl Nathalia
Pada hari Kamis, 25 September 2025 sekitar pukul 16.35 WIB, seorang siswi bernama Echa Cheryl Nathalia yang berusia 13 tahun dan duduk di kelas VII SMP Negeri 03 Kota Bengkulu sedang berjalan santai di atas trotoar Kota Bengkulu bersama ketiga temannya dalam perjalanan menuju sekolah. Perjalanan itu dilakukan dengan tujuan untuk bermain bola basket di sekolah, sementara suasana sore hari yang teduh membuat mereka memilih untuk berjalan kaki secara berkelompok.
2. Tiara Anak Seorang Kuli Bangunan
Tiara adalah seorang siswi SMAN 8 Kota Bengkulu. Dia adalah anak yang periang dan aktif di sekolah nya. Meski seorang anak kuli bangunan semua itu tidak membuat pantang menyerah dalam menggapai impiannya. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil jika dilakukan sekuat mungkin.
F. Art
1.KAIN BESUREK
Kain besurek adalah sejenis batik khas Bengkulu termasuk batik pesisir dengan motif dominan kaligrafi aksara Arab dihiasi perpaduan flora yang sarat dengan makna simbolis yang melambangkan hubungan manusia dan alam serta dengan sang pen-cipta. Tidak diketahui secara pasti asal dan kapan kain besurek dikenal masyarakat Bengkulu, secara tradisi di yakini keberadaan batik besurek sejalan dengan masuk dan berkembangnya pengaruh Islam di Bengkulu pada awal abad ke-16. Warna khas kain besurek adalah merah, biru, coklat dan kuning yang biasanya dipakai pada acara adat seperti cukur rambut anak, perkawinan dan kematian. Pada acara kematian kain besurek digunakan untuk penutup jenazah. Dalam perkembangannya sekarang batik besurek tidak lagi digunakan dalam acara adat tetapi telah digunakan se-bagai pakaian harian dan motifnya sudah berkembang sesuaikan kebutuhan dan perkembangan pangsa pasar.
Sir Thomas Stamford Raffles berperan penting dalam sejarah penemuan Bunga Rafflesia arnoldii di Bengkulu pada tahun 1818 melalui ekspedisi yang dipimpinnya bersama Dr. Joseph Arnold. Nama bunga ini diambil dari gabungan nama keduanya, dan sejak itu Rafflesia arnoldii menjadi ikon khas Bengkulu yang dikenal sebagai “Bumi Rafflesia”. Selain itu, bunga ini juga ditetapkan sebagai salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993.
G. Culture
1.SELEPA
Selepa terbuat dari kuningan dan perak digunakan sebagai tempat uang mahar. Benda ini ditemukan di Pasar Bawah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Penemuan berlangsung pada tanggal 5 Maret 1994. Selepa digunakan masyarakat sebagai wadah khusus untuk menyimpan dan menyerahkan uang mahar dalam tradisi pernikahan. Fungsinya sangat penting karena melambangkan nilai dan penghormatan terhadap adat. Cara penggunaannya dilakukan dengan menaruh uang mahar di dalam selepa lalu diserahkan pada saat prosesi pernikahan.
Rumah Tradisional Melayu Bengkulu, yang juga dikenal sebagai Rumah Bubungan Lima, adalah rumah adat dari Provinsi Bengkulu. Rumah ini memiliki ciri khas berbentuk rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Fungsi utamanya pada zaman dahulu adalah sebagai tempat tinggal para raja atau kaum bangsawan, namun kini sering digunakan untuk acara adat masyarakat Bengkulu.
H. Human Interest
1.Ibu Tini (50) Pencari Barang Bekas
Ibu Tini, seorang perempuan berusia 50 tahun, tinggal di rumah sewa di kawasan Pasar Minggu bersama keluarganya. Sejak tahun 2022, ia mulai bekerja sebagai pencari barang bekas untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Suaminya juga berprofesi sama, sehingga keduanya bergantung pada hasil penjualan barang bekas. Dari pekerjaannya itu, Ibu Tini berusaha menghidupi kelima anaknya meski dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas.
2.Pak Habibie Seorang Penjual Kerupuk Kemplang Keliling
Pak Habibi, seorang pria berusia 40 tahun yang kini tinggal di kawasan Rawa Makmur, telah merantau dari Palembang sejak muda. Sejak duduk di bangku kelas 3 SMP, ia mulai berjualan kerupuk kemplang secara keliling dan masih menekuni pekerjaan itu hingga sekarang. Dengan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, Pak Habibi terus berusaha mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya melalui dagangan khas Palembang tersebut.
3. Ibu Yulita penjual bawang
Yulita, seorang perempuan berusia 42 tahun, sehari-hari berjualan bawang merah untuk menghidupi keluarganya. Awalnya ia memiliki ruko di pasar sebagai tempat berdagang, namun karena dagangannya sering tidak habis, ia memilih berjualan di depan SPBU Kampung Bali agar lebih mudah dijangkau pembeli. Dengan cara itu, Yulita berharap dagangannya cepat laku dan usahanya tetap bisa berjalan meski menghadapi persaingan pasar yang ketat.
I. Social Environment
1. Perjuangan Saekh Menyambung Kehidupan
Saekh, seorang anak dari Anggut Atas, seharusnya kini duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun, karena keterbatasan ekonomi, ia terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. Untuk membantu kebutuhan hidup keluarganya, Saekh kini menjadi anak jalanan yang mencari uang di perempatan lampu merah, salah satunya di dekat Masjid Jamik Kota Bengkulu. Dengan cara itu, ia berusaha bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota meskipun harus mengorbankan pendidikan.2. Cerita Pencari Barang Bekas di TPA Air Sebakul
Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul, Kota Bengkulu, sejumlah pemulung tampak sibuk memilah tumpukan sampah plastik dan barang bekas pada siang hari di bawah teriknya matahari. Mereka adalah warga sekitar yang setiap harinya bekerja di lokasi ini sejak pagi hingga sore demi mendapatkan barang-barang bernilai jual seperti plastik, botol, atau kardus. Aktivitas ini sudah berlangsung bertahun-tahun, menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga meskipun harus bergulat dengan bau menyengat dan kondisi yang tidak sehat. Dengan cara itulah mereka berusaha bertahan hidup, menjadikan sampah sebagai jalan rezeki meskipun penuh keterbatasan.
3. Aura putri seorang penjahit di Pasar Minggu
Di Pasar Minggu, Kota Bengkulu, seorang balita bernama Aura yang baru berusia 2 tahun lebih, setiap hari ikut menemani ibunya, Novrianti, seorang penjahit yang membuka jasa di kawasan pasar tersebut. Hal ini terjadi karena tidak ada yang bisa mengasuhnya di rumah, sementara ayah Aura bekerja sebagai buruh bangunan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Aura adalah anak bungsu dari empat bersaudara, dan kehadirannya di lingkungan pasar yang ramai serta penuh risiko menjadi gambaran nyata betapa sulitnya sebagian keluarga kecil menghadapi persoalan ekonomi dan sosial. Situasi ini menunjukkan bagaimana kondisi lingkungan sosial seringkali memaksa anak-anak harus ikut beradaptasi dengan kerasnya kehidupan sehari-hari, meski seharusnya mereka berada di ruang tumbuh yang aman dan nyaman.
4. Ketua anak jalanan daerah Pasar Minggu bernama Pak Zeck
Di kawasan Pasar Minggu, Kota Bengkulu, terdapat seorang pria bernama Pak Zeck, kelahiran tahun 1972, yang kini hidup sebagai anak jalanan bersama kelompok kecilnya. Kehidupannya penuh lika-liku, bahkan ia pernah menikah hingga 13 kali, namun akhirnya kembali menjalani hari-hari di jalanan. Saat ini, Pak Zeck bersama lebih dari 10 orang rekannya, termasuk remaja, muda-mudi, anak kecil dan bayi, menetap di bangunan atas Pasar Minggu yang sudah tidak lagi digunakan. Aktivitas keseharian mereka sering diwarnai dengan ngelem, sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup dan keterbatasan ekonomi. Fenomena ini mencerminkan wajah buram lingkungan sosial perkotaan, di mana kelompok marginal terpinggirkan tanpa akses yang layak terhadap hunian, pendidikan, maupun kesehatan. Kondisi mereka menjadi cermin bahwa di balik hiruk pikuk kota, masih ada manusia-manusia yang berjuang di batas realita, menunggu uluran perhatian dan solusi dari masyarakat serta negara.
5. Pak Riki penjual sayur mengalami penurunan harga
Di Pasar Minggu, Kota Bengkulu, seorang pedagang bernama Pak Riki, kini berusia 49 tahun, sudah lebih dari tujuh tahun menggantungkan hidup dengan berjualan aneka sayuran. Bersama istrinya, ia bergantian menjaga lapak kecil mereka agar dagangan tetap berjalan lancar setiap hari. Pada waktu tertentu, harga sayur yang dijual mengalami penurunan, misalnya cabai yang biasanya Rp80 ribu per kilo turun menjadi Rp60 ribu, begitu juga bawang merah, bawang putih, kubis, dan sayuran lainnya. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat sedikit lebih terbantu, namun di sisi lain berdampak pada menipisnya keuntungan para pedagang. Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana lingkungan sosial ekonomi di pasar tradisional menjadi ruang perjuangan rakyat kecil, yang setiap hari harus menyesuaikan diri dengan naik turunnya harga bahan pokok demi keberlangsungan hidup keluarga mereka.
J. Urben Bengkulu
1. Berendo Salah Satu Tempat Nongkrong Masyarakat Bengkulu Pada Malam Hari
Pada malam hari, suasana ramai terlihat di kawasan Berendo Bengkulu yang berlokasi di pusat Kota Bengkulu. Tempat ini menjadi destinasi favorit masyarakat untuk berkumpul, bersantai, dan menikmati suasana malam bersama keluarga maupun teman. Banyak pengunjung datang untuk berfoto, menikmati jajanan kaki lima, atau sekadar duduk santai di area terbuka. Dengan ikon menara yang menjulang tinggi serta lampu hias yang menambah keindahan, Berendo menghadirkan nuansa nyaman sekaligus menjadi ruang publik kebanggaan warga Bengkulu. Aktivitas ini dilakukan masyarakat sebagai cara melepas penat setelah seharian beraktivitas, sehingga menjadikan Berendo sebagai simbol kehidupan kota yang hangat dan penuh interaksi sosial.
2. Masjid Jamik Peninggalan Jejak Pengasingan Soekarno di Tanah Bengkulu
Masjid Jamik Bengkulu yang berada di pusat Kota Bengkulu merupakan salah satu peninggalan sejarah penting yang memiliki kaitan erat dengan masa pengasingan Ir. Soekarno pada tahun 1938–1942. Masjid ini didesain ulang oleh Soekarno yang saat itu menjalani pengasingan dari pemerintah kolonial Belanda, dengan tujuan memperluas dan memperindah bangunan agar dapat menampung lebih banyak jamaah. Hingga kini, Masjid Jamik tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai simbol sejarah perjuangan bangsa, di mana jejak pemimpin besar Republik Indonesia masih terasa. Setiap hari, masjid ini ramai dikunjungi oleh jamaah dan wisatawan yang ingin beribadah sekaligus menyaksikan bukti nyata warisan sejarah. Peninggalan ini memperlihatkan bagaimana agama, sejarah, dan lingkungan sosial berpadu, menjadi saksi bisu perjuangan spiritual dan politik Soekarno dalam membangun kesadaran rakyat Bengkulu pada masa penjajahan.


















Komentar
Posting Komentar