Jurnalistik Foto

 K. Foto Essai = Isu Sosial

1. Mendengarkan kisah perjuangan palestina dan doa bersama oleh ustadz dan mahasiswa

2. Ada delapan fakultas mengikuti aksi damai badai al aqso beriring-iringan dari gedung belajar-gedung belajar hingga titik kumpul terpusat pada depan rektorat Universitas Bengkulu. 

3. Alis Akbar salah satu peserta aksi damai badai Al Aqso yang berkesempatan menyuarakan hak-hak rakyat Palestina melalui orasi diatas mobil komando dengan suara lantang dan menggugah semangat api mahasiswa.


4. Aksi Protes Simbolik Tidur Dengan Merobek Bendera Israel.  Aksi Damai Badai Al Aqsa Oleh BEM KBM UNIB 2024 di depan Rektorat Universitas Bengkulu

5. Mahasiswa Universitas Bengkulu ikut berpartisipasi dalam Aksi Damai Badai Al Aqso hingga menjelang maghrib. Tanda selesainya aksi dengan dibacakannya beberapa tuntutan untuk pemerintah dunia dan pemerintah Indonesia. Aksi ini dilakukan di depan rektorat Universitas Bengkulu.


L. Foto Seri = Isu Sosial & Lingkungan

1. Perjuangan Saekh Menyambung Kehidupan

Saekh, seorang anak dari Anggut Atas, seharusnya kini duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun, karena keterbatasan ekonomi, ia terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. Untuk membantu kebutuhan hidup keluarganya, Saekh kini menjadi anak jalanan yang mencari uang di perempatan lampu merah, salah satunya di dekat Masjid Jamik Kota Bengkulu. Dengan cara itu, ia berusaha bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota meskipun harus mengorbankan pendidikan.

2. Ibu Tini (50) Pencari Barang Bekas

Ibu Tini, seorang perempuan berusia 50 tahun, tinggal di rumah sewa di kawasan Pasar Minggu bersama keluarganya. Sejak tahun 2022, ia mulai bekerja sebagai pencari barang bekas untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Suaminya juga berprofesi sama, sehingga keduanya bergantung pada hasil penjualan barang bekas. Dari pekerjaannya itu, Ibu Tini berusaha menghidupi kelima anaknya meski dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas.

N. Foto Feature

1. Menyatukan Jurus Nafas dan Dzikir dalam Semangat Mahatma

Balai Desa Padang Manis, Bengkulu Selatan, menjadi saksi semaraknya kegiatan Olahraga Pernafasan Maju Sehat Bersama Indonesia cabang Bengkulu yang menggelar ujian pendadaran, ujian kenaikan tingkat, dan training center asisten pelatih pada Minggu, 15 September. Kehadiran Guru Besar Yayasan Mahatma Indonesia, Bapak Ir. H. Ade M. Mukhlis, beserta rombongan dari Jakarta, disambut dengan lantunan sholawat penuh khidmat oleh para peserta. Tujuh orang rombongan tiba melalui jalur darat dan udara, membawa semangat dan ilmu yang memperkaya kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 70 peserta dari berbagai tingkatan. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Guru Besar menyampaikan kajian spiritual yang menjadi pembuka rangkaian ujian dan pelatihan.

Kegiatan berlangsung tertib dan penuh makna, dimulai sejak pagi hingga sore hari, dengan jeda Ishoma yang diisi pembagian konsumsi oleh panitia. Ketua Cabang Bengkulu menyampaikan rasa syukur atas peningkatan jumlah anggota tahun ini, menandakan antusiasme masyarakat terhadap senam pernafasan Mahatma sebagai jalan menuju kesehatan dan ridho Ilahi. Di akhir acara, sesi dokumentasi bersama menjadi penutup yang manis sebelum Guru Besar dan rombongan berpamitan pulang ke Pulau Jawa. Para pelatih dan anggota berbaris di jalan sebagai bentuk penghormatan, menandai berakhirnya sebuah hari penuh ilmu, silaturahmi, dan semangat kebersamaan yang akan terus menginspirasi langkah-langkah Mahatma di Bengkulu.

2. Curug Sembilan, Destinasi Wisata Surga Dunia Di Bengkulu Utara Menyimpan Kenangan Yang Tak Terlupakan
Author : Yogi Pratama  D1C023004

Suasana malam yang gelap gulita perkumpulan pemuda dalam grup WhatsApp beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik membangun ide dalam pemilihan objek wisata yang akan di kunjungi. Ide muncul di awali karena liburan akhir semester genap pada bulan Desember tahun 2024. Pada awalnya ide untuk mendaki Bukit Kaba disepakati pada malam hari tanggal 17 Januari 2025 melalui grup WhatsApp. Namun ada kabar yang beredar bahwa sejak tanggal 20 Januari 2025 hingga 19 Maret 2025 akan ditutup untuk kegiatan pemulihan ekosistem guna menjaga kelestarian habitat satwa liar. Akhirnya terjadi kesepakatan tanggal 18 Januari 2025 dengan hasil ada delapan mahasiswa FISIP yang ikut serta healing ke Curug Sembilan, Kec. Padang Jaya, Kab. Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Mengapa Curug Sembilan yang dipilih?

Pagi yang cerah menyambut semangat delapan mahasiswa laki-laki yang siap memulai perjalanan menuju Bengkulu Utara, sebuah lokasi wisata yang menurut informasi Kevin Elvandry masih asri dan penuh tantangan adrenalin. Kevin, yang pernah ikut dalam pengabdian masyarakat di sana, mengungkapkan betapa mempesonanya alam dan budaya di tempat itu. Pukul 08.00 WIB, mereka berkumpul di depan BNI Universitas Bengkulu dan memulai perjalanan dengan doa, berboncengan sepeda motor menuju tujuan. Meski perjalanan memakan waktu, semangat mereka tak luntur karena rasa ingin tahu yang besar akan keindahan alam yang dijanjikan.

Perjalanan dua jam menuju Bengkulu Utara pun membawa mereka menyusuri pemandangan alam yang memukau. Sepanjang jalan, mereka disuguhkan dengan hamparan perkebunan warga, pondokan yang tersusun rapi di pinggir jalan, serta jembatan kecil yang menghubungkan desa-desa. Keindahan alam semakin terasa dengan adanya sungai yang mengalir tenang, menambah kemegahan panorama yang ada. Setiap belokan dan tikungan jalan membuka pemandangan baru yang semakin memperkaya pengalaman mereka, menjadikan perjalanan ini tak hanya sebuah perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan menikmati keindahan alam yang tiada duanya.

Ada yang unik di Desa Rama Agung

Desa Rama Agung, yang terletak di Kecamatan Arga Makmur, sebelum memasuki kawasan Tanah Hitam Kecamatan Padang Jaya, menyuguhkan pemandangan kerukunan antarumat beragama yang luar biasa. Keberagaman agama di desa ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga menjadi simbol toleransi yang patut diapresiasi. Berdasarkan data dari RRI yang ditulis oleh Reja Aribowo pada 16 Desember 2023, penduduk desa ini terdiri dari 712 penganut agama Hindu, 52 penganut agama Buddha, 847 penganut agama Kristen Protestan, 102 penganut agama Kristen Katolik, dan 894 penganut agama Islam. Meskipun berbeda-beda, warga desa Rama Agung mampu hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat dan saling menghargai. Keberagaman ini menjadikan desa Rama Agung sebagai desa wisata religi terbesar di Bengkulu, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Pemakaman Bersama Kerukunan Umat Beragama dan Tugu Kerukunan Umat Beragama. Desa ini membuktikan bahwa perbedaan tidak harus menjadi pemecah, melainkan dapat menjadi kekuatan yang menyatukan dan mempererat tali persaudaraan antarumat beragama.

Di sebalik pantangan Curug Sembilan

Perjalanan panjang akhirnya terbayar ketika kami tiba di pos pertama Wisata Curug Sembilan. Sebelum memasuki kawasan, kami sempat berhenti di jalan untuk membeli beberapa durian ada yang langsung dinikmati, ada pula yang sengaja dibawa untuk disantap di tepi air terjun. Setibanya di pos, petugas wisata menyambut dengan ramah sekaligus memberikan wejangan penting yakni ada sejumlah pantangan yang harus dipatuhi demi menjaga kelestarian hutan Tanah Hitam. Wejangan itu cukup mengejutkan, namun membuat kami semakin sadar bahwa keindahan Curug Sembilan bukan hanya untuk dinikmati, melainkan juga harus dijaga bersama.

Hutan Tanah Hitam yang menjadi jalur menuju air terjun ternyata menyimpan kekayaan hayati yang menakjubkan sekaligus rapuh. Di kawasan ini hidup Harimau Sumatra yang dilindungi karena statusnya terancam punah, serta bunga langka Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di balik lebatnya pepohonan. Pantangan yang berlaku bukan sekadar aturan, melainkan bentuk nyata dari upaya melestarikan flora dan fauna di habitat alaminya. Menariknya, hutan ini juga dipenuhi pohon durian yang tumbuh subur, sehingga wisatawan dapat merasakan pengalaman unik menikmati buah langsung dari alam. Perpaduan pesona air terjun, hutan rimba, dan aroma durian menjadikan perjalanan ke Curug Sembilan terasa semakin istimewa dan tak terlupakan.

Beberapa pantangan yang disampaikan petugas wisata di antaranya adalah kewajiban membawa kembali sampah untuk dibuang di luar area, larangan membakar sampah, serta imbauan untuk segera keluar dari area sungai ketika mendung hitam mulai terlihat. Selain itu, pengunjung juga diwajibkan meninggalkan lokasi sebelum waktu Maghrib demi keselamatan dan menghormati aturan setempat. Yang tak kalah penting, wisatawan dilarang keras mengganggu, memegang, atau mengambil flora dan fauna yang ada di hutan. Aturan-aturan ini mungkin terdengar ketat, namun justru memberi jaminan bahwa keaslian alam Curug Sembilan tetap terjaga, sehingga generasi mendatang masih bisa menikmati keindahannya dengan penuh rasa kagum.

Penantian tak terduga !

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih ketika perjalanan kami berlanjut dari pos ke pos berikutnya. Dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 67,2 km, kami mulai memahami karakter masing-masing dari delapan peserta yang ikut serta menuju Curug Sembilan. Sepanjang perjalanan, berbagai drama pun bermunculan, ada yang baru menempuh 10 km sudah menyerah dan meminta ditinggalkan, ada yang mudah lelah namun tetap berusaha bertahan, ada pula yang begitu ambisius ingin segera sampai di air terjun, sementara beberapa lainnya memilih sabar dan terus menguatkan dengan kalimat penyemangat, meski kenyataannya jarak yang ditempuh masih berkilo-kilo meter lagi, tapi akhirnya mereka sampai juga ke lokasi wisata. Semua pengalaman itu justru memberi pelajaran berharga bahwa perjalanan panjang bukan hanya tentang mencapai tujuan, melainkan juga tentang memahami siapa yang benar-benar sahabat sejati dan siapa yang hanya hadir ketika ada kepentingan semata.

Akhirnya, perjalanan panjang itu terbayar lunas ketika mata kami disuguhi pemandangan bak surga yang tersembunyi di tengah hutan tropis Tanah Hitam. Curug Sembilan menjelma menjadi panorama menakjubkan yang seketika membuat delapan mahasiswa dalam rombongan kami terdiam takjub. Suara gemuruh air terjun, udara sejuk khas hutan rimba, serta cahaya matahari yang menyelinap di sela pepohonan menciptakan harmoni alam yang begitu menenangkan. Rasa lelah, keluhan, bahkan drama sepanjang perjalanan seolah hilang seketika, tergantikan oleh rasa kagum dan syukur bisa menyaksikan keindahan yang masih alami ini.

Untuk sampai ke tempat ini memang dibutuhkan usaha ekstra dan kesabaran. Dari pusat kota, perjalanan menggunakan kendaraan memakan waktu sekitar dua jam. Itu pun baru permulaan, karena dari pos pertama hingga ke lokasi Curug Sembilan masih harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam lima puluh menit. Meski terdengar melelahkan, justru di situlah letak keistimewaannya. Setiap langkah yang diambil menghadirkan cerita, setiap peluh yang menetes menjadi saksi perjuangan, hingga akhirnya semua terbayarkan oleh pesona alam yang membuat siapa pun akan sulit melupakannya. Perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan pengalaman hidup yang mengajarkan arti kesabaran, kebersamaan, dan penghargaan terhadap keindahan alam.

Dokumentasi adalah wajib

Delapan mahasiswa akhirnya tiba di Curug Sembilan setelah menuruni tebing yang cukup curam. Di jalur ini mereka hanya terbantu oleh seutas tali kain dengan pijakan jalan setapak di atas batu napal yang licin akibat aliran air, sehingga perjalanan memakan waktu lumayan lama. Setibanya di lokasi, tidak semua datang bersamaan yang sudah lebih dulu sampai pun harus menunggu cukup lama teman-temannya yang masih berjuang di jalur tersebut. Meski area wisata ini sama sekali tidak memiliki akses jaringan, suasana tetap seru karena para wisatawan sibuk menikmati kegiatan mandi, berenang, makan bersama, hingga menyantap durian yang mereka bawa. Tentu saja, hal wajib saat berwisata pun tak ketinggalan berfoto dan merekam momen untuk dijadikan kenangan.

Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya kedelapan mahasiswa itu berkumpul tepat di bawah aliran air terjun Curug Sembilan. Mereka pun segera membuka bekal berupa snack dan durian dari pos pertama. Beberapa di antaranya memilih mandi, ada yang ngobrol santai, menjelajah sekitar air terjun, dan tak lupa mencari spot foto maupun video terbaik untuk mengabadikan perjalanan ini.

Menjelang sore, sekitar pukul 16.30 WIB, mereka berkemas, mengumpulkan sampah plastik untuk dibawa pulang, lalu bersiap kembali menyusuri jalur. Karena tak ada penerangan sama sekali, hanya mengandalkan senter dari ponsel, perjalanan pulang dilakukan dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan. Hal itu membuat mereka baru bisa keluar dari hutan Tanah Hitam dan sampai di pos penitipan motor sekitar pukul 21.00 WIB. Begitu tiba, napas mereka terengah-engah, bahkan beberapa langsung rebahan sambil menunggu delapan porsi pop mie yang sebelumnya sudah dipesan

Kepulangan Yang Tak Pulang

Perut sudah kenyang, saatnya mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang yang terasa cukup dingin malam itu. Masih di daerah Bengkulu Utara, beberapa dari mereka memacu motor dengan cukup kencang hingga salah satunya tak sempat menghindari lubang besar. Akibatnya, ban belakang motor itu pecah. Dari empat motor yang ada, satu motor sudah melaju lebih dulu dan tidak tahu kalau temannya tertinggal karena musibah itu. Sementara jaringan di lokasi juga tidak stabil, jadi mereka kesulitan menghubungi dua teman yang ada di depan. Menjelang pukul 22.00 WIB, mereka sempat berusaha mencari bengkel yang masih buka, tapi sayangnya tidak ada sama sekali. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermalam di sebuah masjid di daerah Arga Makmur, menunggu esok hari agar bengkel buka dan mencari bensin untuk bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Bengkulu.

Perjalanan delapan mahasiswa FISIP ke Curug Sembilan menjadi bukti bahwa sebuah liburan dapat berubah menjadi pengalaman hidup yang penuh makna. Setiap langkah yang mereka tempuh, mulai dari jalur curam yang licin hingga momen kebersamaan menikmati durian di tepi air terjun, memberikan pelajaran tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur atas anugerah alam. Curug Sembilan tidak hanya menyajikan panorama bak surga tersembunyi, tetapi juga menghadirkan sensasi petualangan yang memacu adrenalin sekaligus menenangkan jiwa. Bagi wisatawan yang mendambakan keindahan alam asli, ketenangan, serta pengalaman yang otentik, Curug Sembilan adalah destinasi yang layak dijadikan pilihan utama. Menjaga kelestarian alam dengan menaati aturan, tidak merusak lingkungan, dan selalu membawa pulang sampah adalah wujud nyata kepedulian agar Curug Sembilan tetap terjaga keindahannya untuk dinikmati generasi mendatang.



Komentar

Postingan Populer