Jurnalistik Foto
K. Foto Essai = Isu Sosial
1. Mendengarkan kisah perjuangan palestina dan doa bersama oleh ustadz dan mahasiswa
2. Ada delapan fakultas mengikuti aksi damai badai al aqso beriring-iringan dari gedung belajar-gedung belajar hingga titik kumpul terpusat pada depan rektorat Universitas Bengkulu.
3. Alis Akbar salah satu peserta aksi damai badai Al Aqso yang berkesempatan menyuarakan hak-hak rakyat Palestina melalui orasi diatas mobil komando dengan suara lantang dan menggugah semangat api mahasiswa.
4. Aksi Protes Simbolik Tidur Dengan Merobek Bendera Israel. Aksi Damai Badai Al Aqsa Oleh BEM KBM UNIB 2024 di depan Rektorat Universitas Bengkulu
5. Mahasiswa Universitas Bengkulu ikut berpartisipasi dalam Aksi Damai Badai Al Aqso hingga menjelang maghrib. Tanda selesainya aksi dengan dibacakannya beberapa tuntutan untuk pemerintah dunia dan pemerintah Indonesia. Aksi ini dilakukan di depan rektorat Universitas Bengkulu.
L. Foto Seri = Isu Sosial & Lingkungan
1. Perjuangan Saekh Menyambung Kehidupan
2. Ibu Tini (50) Pencari Barang Bekas
N. Foto Feature
1. Menyatukan Jurus Nafas dan Dzikir dalam Semangat Mahatma
Balai Desa Padang Manis, Bengkulu Selatan, menjadi saksi semaraknya kegiatan Olahraga Pernafasan Maju Sehat Bersama Indonesia cabang Bengkulu yang menggelar ujian pendadaran, ujian kenaikan tingkat, dan training center asisten pelatih pada Minggu, 15 September. Kehadiran Guru Besar Yayasan Mahatma Indonesia, Bapak Ir. H. Ade M. Mukhlis, beserta rombongan dari Jakarta, disambut dengan lantunan sholawat penuh khidmat oleh para peserta. Tujuh orang rombongan tiba melalui jalur darat dan udara, membawa semangat dan ilmu yang memperkaya kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 70 peserta dari berbagai tingkatan. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Guru Besar menyampaikan kajian spiritual yang menjadi pembuka rangkaian ujian dan pelatihan.
Kegiatan berlangsung tertib dan penuh makna, dimulai sejak pagi hingga sore hari, dengan jeda Ishoma yang diisi pembagian konsumsi oleh panitia. Ketua Cabang Bengkulu menyampaikan rasa syukur atas peningkatan jumlah anggota tahun ini, menandakan antusiasme masyarakat terhadap senam pernafasan Mahatma sebagai jalan menuju kesehatan dan ridho Ilahi. Di akhir acara, sesi dokumentasi bersama menjadi penutup yang manis sebelum Guru Besar dan rombongan berpamitan pulang ke Pulau Jawa. Para pelatih dan anggota berbaris di jalan sebagai bentuk penghormatan, menandai berakhirnya sebuah hari penuh ilmu, silaturahmi, dan semangat kebersamaan yang akan terus menginspirasi langkah-langkah Mahatma di Bengkulu.
Suasana
malam yang gelap gulita perkumpulan pemuda dalam grup WhatsApp beberapa
mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik membangun ide dalam pemilihan objek
wisata yang akan di kunjungi. Ide muncul di awali karena liburan akhir semester
genap pada bulan Desember tahun 2024. Pada awalnya ide untuk mendaki Bukit Kaba
disepakati pada malam hari tanggal 17 Januari 2025 melalui grup WhatsApp. Namun
ada kabar yang beredar bahwa sejak tanggal 20 Januari 2025 hingga 19 Maret 2025
akan ditutup untuk kegiatan pemulihan ekosistem guna menjaga kelestarian
habitat satwa liar. Akhirnya terjadi kesepakatan tanggal 18 Januari 2025 dengan
hasil ada delapan mahasiswa FISIP yang ikut serta healing ke Curug Sembilan,
Kec. Padang Jaya, Kab. Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Mengapa Curug Sembilan yang
dipilih?
Pagi yang cerah menyambut semangat
delapan mahasiswa laki-laki yang siap memulai perjalanan menuju Bengkulu Utara,
sebuah lokasi wisata yang menurut informasi Kevin Elvandry masih asri dan penuh
tantangan adrenalin. Kevin, yang pernah ikut dalam pengabdian masyarakat di
sana, mengungkapkan betapa mempesonanya alam dan budaya di tempat itu. Pukul
08.00 WIB, mereka berkumpul di depan BNI Universitas Bengkulu dan memulai
perjalanan dengan doa, berboncengan sepeda motor menuju tujuan. Meski
perjalanan memakan waktu, semangat mereka tak luntur karena rasa ingin tahu
yang besar akan keindahan alam yang dijanjikan.
Perjalanan dua jam menuju
Bengkulu Utara pun membawa mereka menyusuri pemandangan alam yang memukau.
Sepanjang jalan, mereka disuguhkan dengan hamparan perkebunan warga, pondokan
yang tersusun rapi di pinggir jalan, serta jembatan kecil yang menghubungkan
desa-desa. Keindahan alam semakin terasa dengan adanya sungai yang mengalir
tenang, menambah kemegahan panorama yang ada. Setiap belokan dan tikungan jalan
membuka pemandangan baru yang semakin memperkaya pengalaman mereka, menjadikan
perjalanan ini tak hanya sebuah perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan
menikmati keindahan alam yang tiada duanya.
Ada yang unik di Desa Rama Agung
Desa Rama Agung, yang terletak
di Kecamatan Arga Makmur, sebelum memasuki kawasan Tanah Hitam Kecamatan Padang
Jaya, menyuguhkan pemandangan kerukunan antarumat beragama yang luar biasa.
Keberagaman agama di desa ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas
masyarakat, tetapi juga menjadi simbol toleransi yang patut diapresiasi.
Berdasarkan data dari RRI yang ditulis oleh Reja Aribowo pada 16 Desember 2023,
penduduk desa ini terdiri dari 712 penganut agama Hindu, 52 penganut agama
Buddha, 847 penganut agama Kristen Protestan, 102 penganut agama Kristen Katolik,
dan 894 penganut agama Islam. Meskipun berbeda-beda, warga desa Rama Agung
mampu hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat dan saling menghargai.
Keberagaman ini menjadikan desa Rama Agung sebagai desa wisata religi terbesar
di Bengkulu, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Pemakaman
Bersama Kerukunan Umat Beragama dan Tugu Kerukunan Umat Beragama. Desa ini
membuktikan bahwa perbedaan tidak harus menjadi pemecah, melainkan dapat
menjadi kekuatan yang menyatukan dan mempererat tali persaudaraan antarumat
beragama.
Di sebalik pantangan Curug Sembilan
Perjalanan panjang akhirnya
terbayar ketika kami tiba di pos pertama Wisata Curug Sembilan. Sebelum
memasuki kawasan, kami sempat berhenti di jalan untuk membeli beberapa durian ada
yang langsung dinikmati, ada pula yang sengaja dibawa untuk disantap di tepi
air terjun. Setibanya di pos, petugas wisata menyambut dengan ramah sekaligus
memberikan wejangan penting yakni ada sejumlah pantangan yang harus dipatuhi
demi menjaga kelestarian hutan Tanah Hitam. Wejangan itu cukup mengejutkan,
namun membuat kami semakin sadar bahwa keindahan Curug Sembilan bukan hanya
untuk dinikmati, melainkan juga harus dijaga bersama.
Hutan Tanah Hitam yang menjadi
jalur menuju air terjun ternyata menyimpan kekayaan hayati yang menakjubkan
sekaligus rapuh. Di kawasan ini hidup Harimau Sumatra yang dilindungi karena
statusnya terancam punah, serta bunga langka Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di
balik lebatnya pepohonan. Pantangan yang berlaku bukan sekadar aturan, melainkan
bentuk nyata dari upaya melestarikan flora dan fauna di habitat alaminya.
Menariknya, hutan ini juga dipenuhi pohon durian yang tumbuh subur, sehingga
wisatawan dapat merasakan pengalaman unik menikmati buah langsung dari alam.
Perpaduan pesona air terjun, hutan rimba, dan aroma durian menjadikan
perjalanan ke Curug Sembilan terasa semakin istimewa dan tak terlupakan.
Beberapa pantangan yang
disampaikan petugas wisata di antaranya adalah kewajiban membawa kembali sampah
untuk dibuang di luar area, larangan membakar sampah, serta imbauan untuk
segera keluar dari area sungai ketika mendung hitam mulai terlihat. Selain itu,
pengunjung juga diwajibkan meninggalkan lokasi sebelum waktu Maghrib demi
keselamatan dan menghormati aturan setempat. Yang tak kalah penting, wisatawan
dilarang keras mengganggu, memegang, atau mengambil flora dan fauna yang ada di
hutan. Aturan-aturan ini mungkin terdengar ketat, namun justru memberi jaminan
bahwa keaslian alam Curug Sembilan tetap terjaga, sehingga generasi mendatang
masih bisa menikmati keindahannya dengan penuh rasa kagum.
Penantian tak terduga !
Waktu menunjukkan pukul sepuluh
lebih ketika perjalanan kami berlanjut dari pos ke pos berikutnya. Dengan
berjalan kaki menempuh jarak sekitar 67,2 km, kami mulai memahami karakter
masing-masing dari delapan peserta yang ikut serta menuju Curug Sembilan.
Sepanjang perjalanan, berbagai drama pun bermunculan, ada yang baru menempuh 10
km sudah menyerah dan meminta ditinggalkan, ada yang mudah lelah namun tetap
berusaha bertahan, ada pula yang begitu ambisius ingin segera sampai di air
terjun, sementara beberapa lainnya memilih sabar dan terus menguatkan dengan
kalimat penyemangat, meski kenyataannya jarak yang ditempuh masih berkilo-kilo
meter lagi, tapi akhirnya mereka sampai juga ke lokasi wisata. Semua pengalaman
itu justru memberi pelajaran berharga bahwa perjalanan panjang bukan hanya
tentang mencapai tujuan, melainkan juga tentang memahami siapa yang benar-benar
sahabat sejati dan siapa yang hanya hadir ketika ada kepentingan semata.
Akhirnya,
perjalanan panjang itu terbayar lunas ketika mata kami disuguhi pemandangan bak
surga yang tersembunyi di tengah hutan tropis Tanah Hitam. Curug Sembilan
menjelma menjadi panorama menakjubkan yang seketika membuat delapan mahasiswa
dalam rombongan kami terdiam takjub. Suara gemuruh air terjun, udara sejuk khas
hutan rimba, serta cahaya matahari yang menyelinap di sela pepohonan
menciptakan harmoni alam yang begitu menenangkan. Rasa lelah, keluhan, bahkan
drama sepanjang perjalanan seolah hilang seketika, tergantikan oleh rasa kagum
dan syukur bisa menyaksikan keindahan yang masih alami ini.
Untuk
sampai ke tempat ini memang dibutuhkan usaha ekstra dan kesabaran. Dari pusat
kota, perjalanan menggunakan kendaraan memakan waktu sekitar dua jam. Itu pun
baru permulaan, karena dari pos pertama hingga ke lokasi Curug Sembilan masih
harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam lima puluh
menit. Meski terdengar melelahkan, justru di situlah letak keistimewaannya.
Setiap langkah yang diambil menghadirkan cerita, setiap peluh yang menetes
menjadi saksi perjuangan, hingga akhirnya semua terbayarkan oleh pesona alam
yang membuat siapa pun akan sulit melupakannya. Perjalanan ini bukan sekadar
wisata, melainkan pengalaman hidup yang mengajarkan arti kesabaran,
kebersamaan, dan penghargaan terhadap keindahan alam.
Dokumentasi adalah wajib
Delapan
mahasiswa akhirnya tiba di Curug Sembilan setelah menuruni tebing yang cukup
curam. Di jalur ini mereka hanya terbantu oleh seutas tali kain dengan pijakan
jalan setapak di atas batu napal yang licin akibat aliran air, sehingga
perjalanan memakan waktu lumayan lama. Setibanya di lokasi, tidak semua datang
bersamaan yang sudah lebih dulu sampai pun harus menunggu cukup lama
teman-temannya yang masih berjuang di jalur tersebut. Meski area wisata ini
sama sekali tidak memiliki akses jaringan, suasana tetap seru karena para
wisatawan sibuk menikmati kegiatan mandi, berenang, makan bersama, hingga
menyantap durian yang mereka bawa. Tentu saja, hal wajib saat berwisata pun tak
ketinggalan berfoto dan merekam momen untuk dijadikan kenangan.
Setelah
menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya kedelapan mahasiswa itu berkumpul
tepat di bawah aliran air terjun Curug Sembilan. Mereka pun segera membuka bekal
berupa snack dan durian dari pos pertama. Beberapa di antaranya memilih mandi,
ada yang ngobrol santai, menjelajah sekitar air terjun, dan tak lupa mencari
spot foto maupun video terbaik untuk mengabadikan perjalanan ini.
Menjelang
sore, sekitar pukul 16.30 WIB, mereka berkemas, mengumpulkan sampah plastik
untuk dibawa pulang, lalu bersiap kembali menyusuri jalur. Karena tak ada
penerangan sama sekali, hanya mengandalkan senter dari ponsel, perjalanan
pulang dilakukan dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan. Hal itu membuat mereka
baru bisa keluar dari hutan Tanah Hitam dan sampai di pos penitipan motor
sekitar pukul 21.00 WIB. Begitu tiba, napas mereka terengah-engah, bahkan
beberapa langsung rebahan sambil menunggu delapan porsi pop mie yang sebelumnya
sudah dipesan
Kepulangan Yang Tak Pulang
Perut sudah kenyang, saatnya mereka kembali
melanjutkan perjalanan pulang yang terasa cukup dingin malam itu. Masih di
daerah Bengkulu Utara, beberapa dari mereka memacu motor dengan cukup kencang
hingga salah satunya tak sempat menghindari lubang besar. Akibatnya, ban
belakang motor itu pecah. Dari empat motor yang ada, satu motor sudah melaju
lebih dulu dan tidak tahu kalau temannya tertinggal karena musibah itu.
Sementara jaringan di lokasi juga tidak stabil, jadi mereka kesulitan
menghubungi dua teman yang ada di depan. Menjelang pukul 22.00 WIB, mereka
sempat berusaha mencari bengkel yang masih buka, tapi sayangnya tidak ada sama
sekali. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermalam di sebuah masjid di daerah Arga
Makmur, menunggu esok hari agar bengkel buka dan mencari bensin untuk bisa
melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Bengkulu.
Perjalanan delapan mahasiswa FISIP ke Curug Sembilan menjadi bukti bahwa sebuah liburan dapat berubah menjadi pengalaman hidup yang penuh makna. Setiap langkah yang mereka tempuh, mulai dari jalur curam yang licin hingga momen kebersamaan menikmati durian di tepi air terjun, memberikan pelajaran tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur atas anugerah alam. Curug Sembilan tidak hanya menyajikan panorama bak surga tersembunyi, tetapi juga menghadirkan sensasi petualangan yang memacu adrenalin sekaligus menenangkan jiwa. Bagi wisatawan yang mendambakan keindahan alam asli, ketenangan, serta pengalaman yang otentik, Curug Sembilan adalah destinasi yang layak dijadikan pilihan utama. Menjaga kelestarian alam dengan menaati aturan, tidak merusak lingkungan, dan selalu membawa pulang sampah adalah wujud nyata kepedulian agar Curug Sembilan tetap terjaga keindahannya untuk dinikmati generasi mendatang.










Komentar
Posting Komentar